Sejarah Nagari Batupalano - IKB Batupalano - Jabodetabek

Breaking

IKLAN AdSense1

Saturday, 26 October 2024

Sejarah Nagari Batupalano


Menelusuri asal-usul masyarakat Batupalano secara pasti sedikit sulit, karena terbatasnya informasi sejarah yang yang ada, baik dari cerita at aupun dari tambo. Namun dalam keterbatasn itu, masyarakat Minangkabau umumnya, sepakat mengatakan bahwa nenek moyang kita berasal dari puncak Gunung Merapi. Dalam tambo dikisahkan bahwa nagari pertama tempat bermukimnya nenek moyang orang Minangkabau adalah "Galundi Nan Baselo", yaitu sebuah tempat yang terletak di kaki gunung merapi. 

Pada tambo juga dikatakan bahwa orang Minangkabau merupakan keturunan Raja Iskandar Zulkarnain (sebagian sejarahwan mengatakan ini sebutan untuk raja Macedonia Alexander the great yang berkuasa sekitar tahun 300 SM). Raja Iskandar Zulkarnain punya tiga orang putra yaitu Maharajo Alif yang menjadi raja di Banuruhum (Romawi), Maharajo Depang menjadi raja di Negeri Cina, dan yang paling kecil Maharajo Dirajo menjadi Raja di Pulau Perca (emas) dan sekitaran Gunung Merapi.

Diceritakan bahwa Maharajo Dirajo dengan rombongannya melakukan pelayaran  dan ditengah pelayaran seperti melihat kilauan emas, mereka terus mendekat dan akhirnya menemukan Gunung Merapi. Sebagaimana yang dikutip dalam tambo “Dek lamo baka lamoan, nampaklah gosong dari lauik, yang sagadang talua itiak, sadang dilamun ombak. Dek lamo baka lamoan aia  lauik basentah turun, nan gosong lah basentah naiak, dek dareklah sarupo paco,”

Setelah air surut Maharajo Dirajo dan pengikutnya turun gunung dan mulai membuka lahan untuk tempat tinggal, dan membuat sistem pemerintahan. Ketika jumlah penduduk makin bertambah, dilakukan expedisi mencari daerah baru disekitaran gunung Merapi. Pada masa inilah kemungkinan Nagari Batupalano di tempati oleh nenek moyang untuk pertama kali, walaupun belum diberi nama Batupalano. 

Asal Nama Batupalano

Sekitar abad ke 15 muncul dua orang yang menurut tambo keturunan Maharajo Dirajo, yakni Datuk Perpatih Nan Sabatang serta adik seibunya Datuk Katumanggungan. Keduanya merupakan tokoh penyusun adat Minangkabau, pembuat undang-undang nagari, serta membuat batas-batas wilayah luhak nan tigo. Pada dasarnya luhak nan tigo merupakan daerah sekitaran gunung Merapi, tempat pertama kali nenek moyang orang Minangkabau bermukim. Yakni luhak Tanah Datar, Luhak Agam, serta Luhak 50 Koto.

Datuk Katumanggungan dan Datuk perpatih Nan Sabatang memerintahkan beberapa rombongan untuk melakukan expedisi membangun nagari diberbagai Luhak, termasuk Luhak Agam. Dari puncak Gunung merapi rombongan turun ke arah barat dan kemudian berpencar, mencari daerah-daerah yang layak ditinggali. Ketika rombongan berjalan mereka menemukan sebuah batu besar yang berbentuk pelana kuda dekat sebuah mata air yang jernih. Mereka menetap didaerah itu dan menamainya Nagari Batupalano. Batupalano artinya batu yang seperti pelana kuda. 

Pada awal dibentuk pemerintahan Nagari Batupalano cuma ada dua jorong yaitu jorong Simpang Ampek, dan jorong Simpang Tigo. Tapi kini Nagari Batupalano memiliki 5 Jorong yakni, Jorong Simpang Ampek, Jorong Aceh Baru, Jorong Padang Tarok, Jorong Simpang Tigo, dan Jorong Giriang-giriang. (dari berbagai sumber) 

No comments:

Post a Comment